Senin, 09 Juli 2018

Sastra Revolusi

Semangat revolusi muncul dalam sastra dan seni. Suatu generasi sastrawan yang dinamakan 'Angkatan 1945' adalah orang-orang dengan daya kreatif yang memuncak pada zaman revolusi. Ada penyair ChairilAnwar (1922-1949), penulis prosa Pramoedya Ananta Toer (1922- ) yang sebagian besar tulisannya dikerjakan di penjara Belanda, wartawan MochtarLubis (1922-2004) dan lain lain. Mereka merasa yakin bahwa seni dapat menjadi bagian dari perkembangan revolusi.
Lukisan modern juga mulai menjadi matang dalam revolusi ketika seniman-seniman seperti Affandi (1910-90) dan Sudjojono (1913- ) tidak hanya menuangkan semangat revolusi dalam lukisan-lukisan mereka, tetapi juga memberikan dukungan secara lebih langsung dengan cara membuat poster-poster anti penjajah.

Sabtu, 07 Juli 2018

Homo Ludens

Selain disebut sebagai zoon politicon, homo socius, economic animal, rational animal manusia juga disebut sebagai homo ludens atau makhluk yang bermain. Dan permainan yang sedang digandrungi untuk ditonton di negri ini adalah permainan sepakbola sebanding dengan kesukaannya menonton permainan politik antara kubu Jokowi dan dan non Jokowi.

Tentang permainan sepakbola saya sudah mengenalnya sejak saya kecil. Di kampung nenek saya selalu ada sebuah lapangan sepakbola di setiap desa. Tapi bermain sepakbola bisa di mana saja. Bisa di halaman sekolah di sawah saat musim kemarau atau di hutan karet di sela sela menyabit rumput. Bolanyapun dibuat sendiri dari getah karet yang disadap.

Di SMP Negri LIV Filial saya jarang bermain sepak bola karena sekolah saya di seputaran Roxy Jakarta lebih memberi pelajaran main voli atau bola basket dan berenang. Meski begitu saya suka diajak bermain bola di sebuah lapangan di Karang Tengah yang berbatasan dengan Cinere. Di sinilah saya menyadari bahwa bakat saya tidak di sepak bola. 
Baru di SMEA PPS yang terletak di kaki Gunung Lawu ibu Mar sesekali menyuruh kami main bola. Kami harus berjalan kaki sekitar 1 km dari sekolah menuju lapangan bola yang merangkap menjadi tempat upacara bendera tingkat kecamatan. Sesekali tempat itu disulap menjadi tempat pertunjukan dangdut semisal grup Ken Arok. Pernah juga jadi tempat main akrobat.

Ada yang menelusuri jejak olah raga sepakbola sampai ke peristiwa Karbala di mana Husein bin Ali bin Thalib cucu Nabi Muhammad SAW dibunuh dengan dipenggal kepalanya dan kepala itu dijadikan permainan seperti sepak bola.
Tetapi melihat Iran sebagai pusat Syiah pun bermain bola di Rusia di samping Arab Saudi sebagai dedengkot Wahabi maka rasanya tidaklah benar bahwa permainan bola bermula dari Karbala.

Di rumah saya nyaris semuanya suka nonton sepak bola. Dulu kami membuat upacara nonton bola di depan teve dengan segelas cola dan sebungkus kacang asin. Terakhir saya nonton sepakbola Anniversary Cup di GBK karena diajak bapak dan tetangga. Si bungsu bahkan kiper futsal dan kritikus sepakbola. Sejak SD sudah jadi penggemar fanatik Persib dan menulis di kolom Pikiran Rakyat berhadiah tiket gratis nonton bola. Semalam saya dia sempat berdebat saat menganalisis pertandingan. Analisisku persis seperti analisis anchor tapi analisisnya beda. Bersama kakaknya mereka fans berat Liverpool. Ibunya pernah jadi pemain sepakbola perempuan Putri Parahyangan yang berpusat di lapangan polisi Tegallega. 
Kebetulan temannya vice manager Persib jadi bisa nonton di tribun VVIP di Stadion Jalak Harupat bersama teman teman sekolahnya.

Di musim piala dunia kali ini nampaknya keluarga saya mendukung Inggris. Tapi saya lebih cenderung mendukung Perancis.

Taufiq Kiemas

Berapa hari yang lalu ada seorang kawan mengirim meme lewat Whatsapp yang ternyata merupakan undangan haul kelima almarhum Taufiq Kiemas di wiswa RNI di Kuningan. Acara juga disertai pemutaran film berjudul Abang. Abang merupakan panggilan akrab bagi almarhum Taufiq Kiemas yang biasa dipanggil TK.

Saya mencatat tiga kali bertemu abang yang berkesan. Pertama saat saya diajak Pak Wondo dan Kang Rudi ke Kebagusan untuk bertemu Mbak Mega di rumah mereka yang asri. Rumah pasangan Megawati dan Taufiq Kiemas terletak di tengah perkampungan di selatan kota Jakarta yang dikelilingi pepohonan rindang. Saat itu abang yang sedang berjalan jalan di atas kerikil bertanya pada kang Rudi, "ini siapa?". Kang Rudi menyebut namaku dan kamipun bersalaman. Kedua saat kongres di Inna Beach Hotel Sanur. Saat itu selesai shalat Jumat. Kami bersama meninggalkan masjid. Beliau menggandeng pundakku sambil berbasa basi bercanda. Abang senang melihat anak anak muda yang rajin ke masjid. Ketiga saat ada acara opening ceremony di Lenteng Agung. Saya diminta Mbak Eva berdoa. Saya mengambil posisi di sayap kiri dan Abang meminta saya naik ke podium. Setengah grogi saya pun berdoa di depan abang dan istrinya... Presiden RI.

Semoga Abang bahagia.

OBOR (One Belt One Road)

Kegaduhan mengenai soal TKA saat ini sebenarnya merupakan fenomena puncak gunung es dari apa yang disebut dengan Sinocentric globalisation suatu globalisasi yang berpusat pada RRT sejak 20 terakhir ini. Bahkan sejak 2013 RRT meluncurkan OBOR (one belt one road) suatu gabungan dari membangun jalur sutra darat dari RRT ke Eurasia (Kazakhstan) dan jalur maritim dari RRT-Asean- Timteng-Afrika. Proyek pembangunan infrastruktur darat dan laut ini melibatkan 60 negara dan 900 proyek senilai US $ 1 Trilyun. Proyek yang dibangun antara lain jalan raya, kereta api, pelabuhan laut dan pipa minyak.  Polanya RRT memberi pinjaman atau jaminan melalui bank milik mereka kepada negara yang dilalui OBOR dan serentak dengan itu BUMN/BUMD RRT mulai membangun proyek tersebut dalam bentuk turnkey project dengan membawa 5M (money machine material man and method) dari RRT. Ini sudah dan sedang terjadi antara lain di Mongolia Pakistan Srilanka Turkmenistan Kazakhstan Burma dan Indonesia. Barangkali karena sudah menyasar Pakistan sebagai sekutunya maka AS pun gusar dan keluar dari kesepakatan TPP (Trans Pacific Partnership) lantas memulai trade war alias perang dagang. Dan ini bukan fiksi. Tidak pula fiktif.

Jumat, 29 Juni 2018

Tim Sukses

Seingat saya istilah ini muncul sejak era reformasi. Istilah ini bukan istilah baku hanya sebuah kelaziman. Biasanya istilah bakunya adalah Tim Pemenangan. Tim ini biasanya dibuat untuk membantu seseorang mencapai suatu jabatan tertentu pada suatu organisasi baik organisasi kemasyarakatan maupun kenegaraan. Baik jabatan itu diperoleh melalui pemilihan maupun maupun melalui penunjukan. Tim ini setahu saya bersifat ad hoc alias sementara.

Seingat saya, saya pernah "memiliki" beberapa tim sukses. Pertama saat saya mencalonkan diri menjadi ketua senat mahasiswa di fakultas saya. Tidak saya bentuk secara formal atau diberi nama formal melainkan terbentuk begitu saja dari teman teman dekat yang sering makan bersama di warung atau yang sering tidur berdesak desakan di kamar kost atau belajar bareng. Ada juga tim sukses terselubung yaitu para dosen di prodi saya. Nyatanya tim sukses ini berhasil membantu saya menjadi ketua senat mahasiswa selama dua tahun. Sebagai imbalan hampir semua tim sukses saya masuk struktur organisasi senat mahasiswa.

Tim sukses kedua saya dibentuk secara formal saat saya diminta oleh teman teman menjadi bakal bupati bandung. Saat itu ide ini datang dari kang Aa Umbara (calon bupati KBB) saat kami ngobrol di rumah almarhum pak Tri Wartono, aktivis politik kala itu. Obrolan ini ditindaklanjuti dengan membuat tim sukses formal dan membuat proposal. Diketuai oleh kang Nandang Afipudin dan beranggotakan pengurus partai yang dinonaktifkan, tim ini mampu menggalang dukungan 2/3 ketua partai tingkat kecamatan di Bandung, Cimahi dan Bandung Barat. Tim ini juga mencarikan partner untuk saya yaitu Pak Use, sekda kabupaten Bandung kala itu. Bukan hanya itu tim ini juga mampu menggalang dukungan dari para pengusaha yang digalang oleh Pak Tan. Dalam satu pertemuan mereka berkomitmen membantu dana Rp 1 miliar. Sayang nama saya tidak direkomendasi oleh partai. Maka tim sukses saya kemudian di hire oleh kandidat lain yang kemudian menjadi walikota Cimahi.

Tim sukses saya yang ketiga adalah saat saya mencalonkan diri menjadi anggota parlemen tahun 2009. Tim ini bukan tim profesional melainkan kumpulan para tetangga di kompleks tempat tinggal saya yang ingin mengantarkan saya ke Senayan. Ketuanya seorang pensiunan kepala SMP wakilnya pensiunan kantor geologi anggotanya ada tukang service peralatan elektronik, pegawai IPTN yang dirumahkan, seorang ustadz yang merangkap menjadi marbot dan seorang mantan manajer yang beralih menjadi juragan becak karena mengalami disabilitas. Tim ini lumayan bagus hasilnya. Dengan dana pribadi sekitar Rp 50 juta kami mendapat sekitar 9 - 10 ribu suara. Tentu tidak bisa mengejar suara Bang TK dan Oneng. Karena itu mimpi para tetangga mengantar saya ke Jakarta belum mampu diwujudkan.

Nah itulah cerita tim sukses. Sayapun beberapa kali menjadi tim sukses untuk orang lain. In sya Allah akan saya ceritakan di lain waktu.

Kamis, 28 Juni 2018

Pesta Demokrasi

Alhamdulillah Pilkada serentak berjalan lancar dan sukses. Tanda bahwa negri ini dikelola dengan baik. Semua Partai memperoleh bagiannya masing masing. Tentara Polisi BIN yang dipersepsikan beroperasi untuk kepentingan penguasa ternyata berdiri tegak di atas kepentingan negri. Di sana sini masih ada politik sektarian, money politic, bagi bagi bahan pangan, gugatan yang bersifat sporadis tapi bukan gejala umum. Pendek kata KPU dan Bawaslu bekerja efektif dan profesional. Presiden juga tidak berkampanye untuk orang orangnya. Mendagri juga tidak berpihak. Pak Tubagus Hasanuddin dan Kang Dedi Mulyadi sudah mengucapkan selamat pada Kang Emil dan Kang Uu. Mau apa lagi ?

Mari kita syukuri bahwa Rakyat memang benar benar sudah matang dan cerdas. Mereka sudah benar benar berjalan dalam alam demokrasi. Mereka telah memberi satu satunya sakti yang mereka miliki yaitu : suara. Dan itu diberikan dengan ikhlas dan senang hati. Saya pergi ke TPS di awal waktu menjumpai para petugas tampil dengan kegantengan maksimum. Pak RT rela jadi penunggu kotak suara dan kulihat berpakaian dandy tak seperti biasanya. Para tetangga meninggalkan sawah kebun dan warungnya untuk antri. Mereka melihat dengan seksama profil jago jagonya. Ada yang sudah memiliki pilihan pasti ada pula yang masih bertanya tanya. Tapi toh mereka mencoblos, melipat kartu suara, memasukkannya ke dalam kotak dan mencelupkan jarinya pada cairan ungu dan pulang dengan bahagia. Merasa dihargai sebagai warga negara dari suatu bangsa dan negara yang merdeka bernama Indonesia. Apalagi ?

Rakyat telah memberi dan anda semua yang terpilih berhutang pada mereka. Tidak peduli dari partai mana dan dengan motif apa, anda harus membayar pada rakyat. Tunaikan janji anda. Bekerjalah sepenuh hati untuk rakyat yang menaruh harapan besar pada anda. Mereka ingin jalan dan transportasi publik yang baik aman dan terjangkau. Mereka ingin rumah dan lingkungan yang sehat aman dan nyaman. Mereka ingin dirawat jika sakit atau terlantar. Mereka ingin beribadah tanpa rasa takut. Mereka ingin agar anak anak mereka berbaju bagus makan bergizi bersekolah bekerja kawin mawin beranak pinak dan saat lebaran bisa mudik sambil membawa uang dan oleh oleh. Mereka ingin dilayani oleh para abdi negara yang ramah jujur penuh empati dan tidak korupsi.

Karena itu wahai sdr ku sahabatku yang terpilih, bekerjalah untuk rakyat sebagai ibadahmu kepada Tuhan. Curahkan waktu dan perhatianmu bagi rakyat. Banyaklah berdoa agar Tuhan memberikan petunjuk dan bimbingannya. Jadilah pemimpin yang melindungi bermacam macam suku dan keyakinan dalam masyarakatmu. Bersabarlah mendengar keluhan mereka. Catat aspirasi mereka. Selesaikan masalah mereka. Karena untuk itulah anda dipilih. Jika ini anda lakukan dengan sebaik baiknya maka pintu surga sudah menunggu. Demikian pula sebaliknya.

"Selamat para pemimpin. Rakyatnya makmur terjamin."

Selasa, 26 Juni 2018

Pulung Kanalendran

Pulung kanalendran (kekuasaan) turun dari langit dibawa malaikat bersayap ke bumi khatulistiwa.

Begitu banyak amanah dari Allah untuk para gubernur bupati walikota. Diberikan tanpa diminta. Baik melalui pilkada atau tidak. KekuasaanNya begitu luas melebihi luas samudra. Memenuhi ruang dari gubug pemulung hingga istana Negara.

Bukan karena kampanye tim sukses konsultan relawan bandar pengumpulan koin koalisi poros ini itu partai Allah partai setan electoral treshold pencitraan branding positioning differentiation amang amang  iming iming omong omong fitnah caci maki intrik infiltrasi pengecohan penipuan teror pengkafiran penistaan strategi maupun taktik apalagi perang ayat.

Kekuasaan itu pasti diberikan. Bagi siapa saja yang dikehendaki Nya baik menginginkan ataupun tidak. Membutuhkan maupun tidak. Allah membagikannya baik lewat perang maupun tidak. Dengan darah maupun sekedar kerling mata indah dan senyum manismu.

Malaikat berputar putar dari lintang utara ke lintang selatan dari bujur timur sebelah barat hingga bujur timur sebelah timur. Mereka tahu dengan tepat koordinat rumahmu meski mungkin kau sedang dalam zikir di sebuah masjid di makam leluhurmu atau dalam  pelukan kekasih. Jangan terkejut atau pingsan jika kekuasaan itu diberikan padamu. Terimalah dengan ikhlas dan biasa saja. Tak perlu bersujud atau bertakbir. Apalagi pesta orgi.

Karena amanah itu berat. Alam semesta pun tak sanggup menerima. Hanya manusia yang mau memikulnya. Mungkin karena pintar bodoh kaya miskin nafsu terpaksa atau tak punya pekerjaan.