Senin, 28 Desember 2009

Senin, 14 Desember 2009

Sejarah Komik Indonesia

Generasi 1930an

Merujuk kepada Boneff maka komik Indonesia pada awal kelahirannya dapat di bagi menjadi dua kategori besar, yaitu komik strip dan buku komik. Kehadiran komik-komik di Indonesia pada tahun 1930an dapat ditemukan pada media Belanda seperti De Java Bode dan D’orient dimana terdapat komik-komik seperti Flippie Flink and Flash Gordon. Put On,seorang peranakan Tionghoa adalah karakter komik Indonesia yang pertama-tama merupakan karya Kho Wan Gie yang terbit rutin di surat kabar Sin Po. Put On menginspirasi banyak komik strip lainnya sejak tahun 30an sampai 60-an seperti pada Majalah Star(1939-1942) yang kemudian bertukar menjadi Star Weekly. Sementara itu di Solo, Nasroen A.S. membuahkan karya komik stripnya yang berjudul Mentjcari Poetri Hidjaoe melalui mingguan Ratu Timur. Di awal tahun 1950-an, salah satu pionir komik bernama Abdulsalam menerbitkan komik strip heroiknya di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, salah satunya berjudul “Kisah Pendudukan Jogja”, bercerita tentang agresi militer Belanda ke atas kota Yogyakarta. Komik ini kemudian dibukukan oleh harian “Pikiran Rakyat” dari Bandung. Sebagian pengamat komik berpendapat bahwa inilah buku komik pertama-tama oleh artis komik Indonesia.

Generasi 1940-50an

Sekitar akhir tahun 1940an, banyak komik-komik dari Amerika yang disisipkan sebagai suplemen mingguan suratkabar. Diantaranya adalah komik seperti Tarzan, Rip Kirby, Phantom and Johnny Hazard. Kemudian penerbit seperti Gapura dan Keng po dari Jakarta, dan Perfects dari Malang, mengumpulkannya menjadi sebuah buku komik. Ditengah-tengah membanjirnya komik-komik asing, hadir Siaw Tik Kwei, salahs seorang komikus terdepan, yang memiliki teknik dan ketrampilan tinggi dalam menggambar mendapatkan kesempatan untuk menampilkan komik adapatasinya dari legenda pahlawan Tiongkok ‘Sie Djin Koei’. Komik ini berhasil melampaui popularitas Tarzan di kalangan pembaca lokal. Popularitas tokoh-tokoh komik asing mendorong upaya mentransformasikan beberapa karakter pahlawan super itu ke dalam selera lokal. R.A. Kosasih, yang kemudian dikenal sebagai Bapak Komik Indonesia, memulai karirnya dengan mengimitasi Wonder Woman menjadi pahlawan wanita bernama Sri Asih. Terdapat banyak lagi karakter pahlawan super yang diciptakan oleh komikus lainnya,diantaranya adalah Siti Gahara, Puteri Bintang, Garuda Putih and Kapten Comet, yang mendapatkan inspirasi dari Superman dan petualangan Flash Gordon.

Generasi 1960-70an

Adapatasi dari komik asing dalam komik Indonesia mendapatkan tentangan dan kritikan dari kalangan pendidik dan pengkritik budaya. Karena itu penerbit seperti Melodi dari Bandung dan Keng Po dari Jakarta mencari orientasi baru dengan melihat kembali kepada khazanah kebudayaan nasional. Sebagai hasil pencarian itu maka cerita-cerita yang diambil dari wayang Sunda dan Jawa menjadi tema-tema prioritas dalam penerbitan komik selanjutnya. R.A. Kosasih adalah salah seorang komikus yang terkenal keberhasilannya membawa epik Mahabharata dari wayang ke dalam media buku komik. Sementara itu dari Sumatra, terutamanya di kota Medan, terdapat pionir-pionir komikus berketrampilan tinggi seperto Taguan Hardjo, Djas, dan Zam Nuldyn, yang menyumbangkan estetika dan nilai filosofi ke dalam seni komik. Di bawah penerbitan Casso and Harris, artis-artis komik ini mengeksplorasi cerita rakyat Sumatra yang kemudian menjadi tema komik yang sangat digemari dari tahun 1960an hingga 1970an.

Banyak dipengaruhi komik-komik dengan gaya Amerika, Eropa, dan Tiongkok. Sebagian besar memanfaatkan majalah dan koran sebagai medianya, meskipun beberapa karya seperti Majapahit oleh R.A. Kosasih juga mendapatkan kesempatan untuk tampil dalam bentuk buku.

Tema yang banyak muncul adalah pewayangan, superhero, dan humor-kritik.

* Abdillah
* Budijanto Suhardiman
* Ganes TH.
* Hasmi
* Jan Mintaraga
* Jeffry (Iwan Suhardi)
* John Lo (Djoni Lukman)
* R.A. Kosasih
* Sim Kim Toh alias Simon Iskandar
* Kho Wan Gie alias Sopoiku
* Wid NS
* Zaldy Armendaris
* Dwi Koendoro

Generasi 1990-2000an

Ditandai oleh dimulainya kebebasan informasi lewat internet dan kemerdekaan penerbitan, komikus mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi gayanya masing-masing dengan mengacu kepada banyak karya luar negeri yang lebih mudah diakses. Selain itu, beberapa judul komik yang sebelumnya mengalami kesulitan untuk menembus pasar dalam negeri, juga mendapat tempat dengan maraknya penerbit komik bajakan.

Selain itu beberapa penerbit besar mulai aktif memberikan kesempatan kepada komikus muda untuk mengubah image komik Indonesia yang selama ini terkesan terlalu serius menjadi lebih segar dan muda.

Dua Aliran Utama

Ada dua aliran utama yang mendominasi komik modern Indonesia, yaitu Amerika (lebih dikenal dengan comics) dan Jepang (dengan stereotype manga).


Aliran Amerika

Komikus yang memilih style ini kebanyakan memang mereferensikan karya mereka pada komikus-komikus Amerika. Sebagian dari mereka bahkan ada yang bekerja untuk produksi komik Amerika. Beberapa komikus yang bisa dikatakan beraliran gaya Amerika antara lain

* Donny Kurniawan
* Alfa Roby


Aliran Jepang

Komikus yang menggunakan aliran ini sangat diuntungkan dengan berkembangnya komunitas di Internet. Beberapa situs seperti julliedillon.net, howtodrawmanga.com, dan mangauniversity memuat banyak informasi pembuatan manga. Hal ini juga membuat ciri utama komikus Indonesia dengan aliran gambar Jepang, yaitu kebanyakan nama pengarangnya disamarkan dengan nickname masing-masing di dunia maya. Kemungkinan hal inilah yang menyebabkan sulitnya mengetahui jumlah tepatnya komikus lokal. Beberapa pengarang komik yang aktif mengeluarkan karya dengan gaya ini adalah:


* Anthony Ann dengan nama samaran lainnya: Sentimental Amethyst
* Anzu Hizawa
* Is Yuniarto dan John G.Reinhart

Beberapa Studio Komik juga pernah membuat karya-karya yang berciri aliran Jepang, antara lain

* Komikers

Komik Independen

Diawali dengan semangat untuk melawan hegemoni komik-komik dari luar Indonesia, muncullah komik-komik independen (lokal). Mencoba tampil berbeda, membuat gaya gambar lebih variatif dan eksperimental. Banyak komikus-komikus indie (independen) mengandalkan mesin fotokopi untuk penggandaan karya-karya mereka. Sistem distribusi paling banyak dilakukan di pameran komik, baik dengan jalan jual-beli atau barter antarkomikus. Tak jarang ada komikus yang menghalalkan karyanya untuk diperbanyak dan disebarluaskan, dengan motto 'copyleft' (lawan dari copyright atau hak cipta). Tentunya tidak untuk tujuan komersil.

Beberapa studio komik Independen antara lain:

* Daging Tumbuh
* Bengkel Qomik

Sumber : Wikipedia

Rabu, 07 Oktober 2009

KOMIK SEBAGAI SENI

Komik
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Komik adalah suatu bentuk seni yang menggunakan gambar-gambar tidak bergerak yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk jalinan cerita. Biasanya, komik dicetak di atas kertas dan dilengkapi dengan teks. Komik dapat diterbitkan dalam berbagai bentuk, mulai dari strip dalam koran, dimuat dalam majalah, hingga berbentuk buku tersendiri.

Terminologi

Di tahun 1996, Will Eisner menerbitkan buku Graphic Storytelling, dimana ia mendefinisikan komik sebagai "tatanan gambar dan balon kata yang berurutan, dalam sebuah buku komik." Sebelumnya, di tahun 1986, dalam buku Comics and Sequential Art, Eisner mendefinisikan eknis dan struktur komik sebagai sequential art, "susunan gambar dan kata-kata untuk menceritakan sesuatu atau mendramatisasi suatu ide".

Dalam buku Understanding Comics (1993) Scott McCloud mendefinisikan seni sequential dan komik sebagai "juxtaposed pictorial and other images in deliberate sequence, intended to convey information and/or to produce an aesthetic response in the viewer".

Para ahli masih belum sependapat mengenai definisi komik. sebagian diantaranya berpendapat bahwa bentuk cetaknya perlu ditekankan, yang lain lebih mementingkan kesinambungan image dan teks, dan sebagian lain lebih menekankan sifat kesinambungannya (sequential). Definisi komik sendiri sangat supel karena itu berkembanglah berbagai istilah baru seperti:

* Picture stories – Rodolphe Topffer (1845)
* Pictorial narratives – Frans Masereel and Lynd Ward (1930s)
* Picture novella – dengan nama samaran Drake Waller (1950s).
* Illustories – Charles Biro (1950s)
* Picto-fiction – Bill Gaine (1950s)
* Sequential art(graphic novel) – Will Eisner (1978)
* Nouvelle manga – Frederic Boilet (2001)

Untuk lingkup nusantara, terdapat sebutan tersendiri untuk komik seperti diungkapkan oleh pengamat budaya Arswendo Atmowiloto (1986) yaitu cerita bergambar atau disingkat menjadi cergam yang dicetuskan oleh seorang komikus Medan bernama Zam Nuldyn sekitar tahun 1970. Sementara itu Dr. Seno Gumira Ajidarma (2002), jurnalis dan pengamat komik, mengemukakan bahwa komikus Teguh Santosa dalam komik Mat Romeo (1971) mengiklankannya dengan kata-kata "disadjikan setjara filmis dan kolosal" yang sangat relevan dengan novel bergambar.

Istilah cerita bergambar

Akronim cerita bergambar, menurut Marcell Boneff mengikuti istilah cerpen (cerita pendek) yang sudah terlebih dahulu digunakan, dan konotasinya menjadi lebih bagus, meski terlepas dari masalah tepat tidaknya dari segi kebahasaan atau etimologis kata-nya.

Tetapi menilik kembali pada kelahiran komik, maka adanya teks dan gambar secara bersamaan dinilai oleh Francis Laccasin (1971) sebagai sarana pengungkapan yang benar-benar orisinal. Kehadiran teks bukan lagi suatu keharusan karena ada unsur motion yang bisa dipertimbangkan sebagai jati diri komik lainnya.

Karena itu di dalam istilah komik klasik indonesia, cerita bergambar, tak lagi harus bergantung kepada cerita tertulis. Hal ini disebut Eisner sebagai graphic narration (terutama di dalam film & komik).

Posisi komik di dalam seni rupa

Komik menurut Laccasin (1971) dan koleganya dinobatkan sebagai seni ke-sembilan. Walaupun sesungguhnya ini hanya sebuah simbolisasi penerimaan komik ke dalam ruang wacana senirupa. Bukanlah hal yang dianggap penting siapa atau apa saja seni yang kesatu sampai kedelapan.

Menurut sejarahnya sekitar tahun 1920-an, Ricciotto Canudo pendiri Club DES Amis du Septième Art, salah satu klub sinema Paris yang awal, seorang teoritikus film dan penyair dari Italia inilah yang mengutarakan urutan 7 kesenian di salah satu penerbitan klub tersebut tahun 1923-an. Kemudian pada tahun 1964 Claude Beylie menambahkan televisi sebagai yang kedelapan, dan komik berada tepat dibawahnya, seni kesembilan.

Thierry Groensteen, teoritikus dan pengamat komik Perancis yang menerbitkan buku kajian komiknya pada tahun 1999 berjudul "Système de la bande dessinée (Formes sémiotiques)" yang akan terbit tahun 2007 menjadi "The System of Comics". Ia berbicara definisi seni kesembilan dalam pengantar edisi pertama majalah "9e Art" di Perancis. Menurutnya, yang pertama kali memperkenalkan istilah itu adalah Claude Beylie. Dia menulis judul artikel, "La bande dessinee est-elle un art?", dan seni kesembilan itu disebut pada seri kedua dari lima artikel di majalah "Lettres et Medecins", yang terbit sepanjang Januari sampai September 1964.

Baru kemudian pada tahun 1971, F. Laccasin mencantumkan komik sebagai seni kesembilan di majalah "Pour un neuvieme art", sebagaimana yang dikutip oleh Marcel Boneff pada 1972 di dalam Komik Indonesia .

Senin, 05 Oktober 2009

History of

Comic books are, at least, as old as movies. Their first steps were set in the beginning of XXth Century, in the search of new ways of graphic and visual communication and expression. Usually, comic books are also associated with the prehistoric paintings in caves and Egyptian hieroglyphics, all of them visual narratives of juxtaposed images. The existence of words was not mandatory, but with the adoption of symbols to represent them -- letters --, they were soon added to give more information and boost the narrative flow. The improvement of press and printing technology were strong factors to the development of the medium.

Among the precursors can be mentioned Swiss Rudolph Töpffer, German Wilhelm Bush, French Georges ("Christophe") Colomb and brazilian Angelo Agostini, but it is usual to associate the first comic book to Richard Fenton Outcalt's creation, The Yellow Kid, in 1896. Outcalt essentially synthesized what had been made before him and introduced a new element: the balloon, a space where he wrote what the characters said, and that pointed to their mouth with a kind of tail.

The bases for a brand new kind of art were set, and the adventure begun. In the first decades of its life, comic books were essentially humoristic, and this is the explanation for the name they carry to date in English language. Some of those days' creations can be read until today, and are among the best stories in comic book's History: Little Nemo in Slumberland (by Winsor McCay), Mutt & Jeff (by Bud Fisher), Popeye (by E. Segar) and Krazy Kat (by George Herriman). However, comic books have other denominations, such as Italian fumetti (smoke, an allusion to the shape of the balloon), French bande dessiné; (drawn strip), Japanese manga and Portuguese história em quadradinhos (story in little squares), much more comprehensive.
Stories' themes were mostly about children and pet's frolics, and from that age comes the designations kid strips, animal strips, family strips, boy-dog strips, boy-family-dog strips and whatever else could be created. Such designations still apply, even to more intellectualized strips, such as Calvin and Hobbes.
Calvin dances!Hobbes too!


The Phantom Tarzan de Hal FosterThe crack of the Stock Market in 1929 was a turning point in comic book's history, and in the 30's comic books grew up, starting to picture adventures. Alex Raymond's Flash Gordon, Chester Gould's Dick Tracy and Hal Foster's adaptation of E. R. Borroughs' Tarzan were those days paradigms, now known as The Golden Age. Three essential types, the science fiction, detective stories and jungle adventures spread their tentacles, respectively based in each of the above stories. While Foster's Tarzan was a full of action, without balloons adaptation of the book by Borroughs, and Gould's Dick Tracy was partially inspired by the gang wars of Chicago (where Gould lived), Flash Gordon was a Prince Valiantproduct of total imagination of Raymond, which would give also Secret Agent X-9, Jim of the Jungle (competing with Dick Tracy and Tarzan, respectively) and Rip Kirby. Foster did also a historic masterpiece on comics, Prince Valiant, medieval adventure with academic accuracy. About this time was created the first costumed character, the Phanton, written by Lee Falk and masterly drawn by Ray Moore. Falk is one of the best comic book writers of all time and probably the one that stood more time with the same character -- more than 50 years! Falk also created Mandrake the Magician, with pencils by Phil Davis.

Hergé's Tintin

(About this time there were great comic books in other places besides USA, like France and Belgium, but they were barely known out of their birth countries. Of particular interest is Belgic Hergé's Tintin, who practically created the clean line style, and had lots of followers (and imitators)).


The outcome of this process was that the birth of a typically American comic was born: the super-hero, with Siegel and Shuster's Superman. Superman is a landmark -- for a lot of people his début is the start the Golden Age -- in Comic book History, a perfect archetype, the model to lots of characters and one of the most perfect myths of modern ages. Lots of academic studies and dissection works have been made about him along his near 60 years of life. And lots of bucks, too. Both his creators died in the nineties, without a small fraction of this fortune, because they sold the rights of the character in 40's to DC Comics.

Jack Kirby's Captain America The Comics evolved, and spread its arms, becoming part of mass culture. In the period 1940-1945 some four hundred super heroes were created, mostly based in Superman's model, though only a few survived. Two of them deserve to be highlighted: Batman, created in 1939 by Bob Kane, a darker character (inspired in Da Vinci's flying machine and Zorro) whose fame would exceed Superman's in the 80's, and Captain Marvel, by C.C. Beck, a yon boy that earned magical powers every time he said the magic word Shazam!, an acronym of names of old gods. A lot of characters were enlisted and went to the World War II, and comic books became ideological weapons to increase soldiers and people moral. The greatest icon of those war days is Jack Kirby and Joe Simon's Captain America. To say the least, in the cover of his first magazine, Captain America battled no one other than Adolf Hitler himself.

Batman's cover In the 40's, the magazine format of comic books as we know today was created, as well as one of the best comic books ever conceived, Will Eisner's The Spirit, an anthological work that last twelve years with the help of soon-to-be-known famous names, like Bob Kane (creator of Batman), Jack Kirby and cartoonist Jules Feiffer. With only seven weekly pages, inserted in the Sunday supplement of a journal, Eisner created a full encyclopedia of comic books, using each of the comic books' basic elements in a new and creative way, beginning each story with a different logo for The Spirit, with an intense use of perspective and shadow. With subjects far more mature than the typically super-hero's stories, The Spirit is the starting point for a series of tales dealing with everyman's life and problems, usual subjects in later Eisner's works. Aside with Milton Caniff's Terry and the Pirates, The Spirit is one of the best comic books of that decade (if not the one ever made).


The 50's staged the greatest witch-hunt of comics ever, and a lot of prejudice from those Comics Code Stampdays still remains. Psychiatrist Frederic Wertham wrote a book, The Seduction of the Innocent, where he accused comic books of causing youth corruption and juvenile delinquency. Among any other weird subjects, he accused comics of inciting youth to violence (what had already happened with rock'n'roll). A Comics Code was then created destined to limit and rule on what could appear (and what could not) in the pages. It destroyed all horror titles from EC Comics, except for one, an humoristic mag, that remains until today: Mad.

Charlie BrownAnother great story was born those hard days, an apparently innocent strip about a group of children: Peanuts, by Charles M. Schulz. Charlie Brown, the main character, is a 6 year old boy, born to loose. He symbolizes the insecurity, the ingenuity, the lack of initiative; an eternal hopper. His dog, Snoopy, is a philosophic beagle in the top of his red house. This strip starts the thinking and intellectual age of comics, with a greater valorization of the text over the images. The other great name of the 50's intellectual comics is Jules Feiffer, who retracted paranoia and obsessions of compulsive people from the American society with a free, undefined drawing style, without background, mainly in monologues, in the Village Voice. In times of limited freedom of speech and witch-hunt, the creators (in theater and in movies as much as in comics) used apparently inoffensive stories to say in the interlineation what they wanted. Walt Kelly's Pogo is another example, which used small animals in the swamps of Florida to discuss politics.

Asterix le gaulois In Europe, by those days, was created one of the best comic books ever made, the French Astérix, by René Goscinny (text) and Albert Uderzo (pencils), in Pilote magazine, in 1959. With a huge humor sense, great historic research, wonderful pencils, Astérix is without any question, a masterpiece. The stories of the inhabitants of a gaul village, in 50 b.C., mixed adventure, jokes about mostly European countries (and their people), Latin quotes, caricatures of French personalities from the 60's and detailed backgrounds in an easy reading narrative. In 1977 Goscinny died, but the story didn't end: Uderzo followed drawing and, then, also writing the albums -- until today. Astérix is the top-one best seller in French.


Marvel Universe In the sixties we can see the remake of the super hero with the Marvel Comics, by Stan Lee and Jack Kirby. Lee and Kirby already worked with comic books and super heroes, but then, they had the opportunity of creating an entire new fictional universe. The surprise was that the characters had some kind of weakness or defect in opposition to their super powers. Fantastic Four, Silver Surfer, Thor, Hulk, X-Men, Iron Man, Dr. Strange were the first of an empire that soon would turn Marvel in the number one in comic book market. But the most popular character and one of the most interesting super heroes ever created is the Spiderman, the secret identity of frail and shy teenager Peter Parker.

Jean (Moebius) Giraud's Grubert
R. Crumb's Snoid Times changes, and so comic books, in sixties. Examples of what we call today adult comics became more usual, opening space for the creation of stories such as French Barbarella, by Jean Claude Forest; argentine Mafalda, by Quino; Italian Valentina, by Guido Crepax; north American Fritz the Cat, by Robert Crumb (who introduced the underground in comic books); and for the embryonic works in science fiction and fantasy of Parisian penciller Jean Giraud, who later would be better known as Moebius. In all those works it could be seen sex, violence, intellectual insight, critics to the society, use of color and page design in very different ways and intensities than what has been done so far. Comic books are not more only for kids; they grew up and sophisticated themselves in unexpected ways. Adult comics existed since the first times, but they increase in number in the 70's. Conventions and exposition in museums began at the end of that decade, as much as academic studies.


Heavy Metal logo The seventies are no more than a natural consequence of what had begun to happen in the sixties. Underground comics definitively conquered their space, been sold either in head shops or hand to hand. Crumb, Gilbert Shelton's Freak Brothers, S. Clay Wilson, Victor Moscoso, Dan Griffin are among the most known names, if you can say so, in underground. On the other side of the ocean, a few French pencillers -- Moebius, Phillipe Druillet, Jean Pierre Dionnet, and Bernard Farkas --, joined under the name of Les humanoides associés, created in 1974 a historic magazine, Métal Hurlant, that came to the USA in 1977, as Heavy Metal. Fantasy, science fiction, acid trips, rock'n'roll, naked bodies, incredible use of color, new ways of page design and literature are part of the confuse mix that made the success of the magazine. From Itally comes great fumetti, such as Ken Parker, by Berardi and Milazzo, Corto Maltese, by Hugo Pratt, and The Click, by Milo Manara. Hugo Pratt's Corto Maltese

In the end of the seventies Will Eisner returns to the comic's stage, inaugurating a new genre, the graphic novel, with A Contract with God. It is the first of a series of tales ambiented in the Bronx that would prove definitively that the master hasn't loose his hand.

I haven't yet write about the comic book History in the eighties, but I encourage you to visit the wonderfull site http://www.geocities.com/Athens/8580 , where you may find a complete and interesting study about the super hero History, from the begining to the 90's, by Jaime Coville.

Kamis, 17 September 2009

Sabtu, 29 Agustus 2009

Museum Sebagai Jendela Kebudayaan

Museum diperlukan untuk mengumpulkan, ,menyimpan, merawat, mengamankan, dan memanfaatkan benda-benda bukti material hasil budaya manusia,alam dan lingkungannya. Hal itu berlaku juga untuk komik Indonesia tentunya. Artikel ini menggambarkan fungsi museum dalam mengamankan komik Indonesia sebagai benda hasil budaya.
Setiap benda yang menjadi koleksi museum harus memperhatikan criteria sebagai berikut: pertama, memiliki nilai sejarah dan ilmiah; kedua, memiliki identitas menurut bentuk dan wujudnya, tipe dan gayanya, fungsi dan asalnya secara historis, geografis, serta periodesasi; ketiga, dapat menjadin monument sejarah dan budaya (Perda Propinsi Jawa Barat No. 7 Tahun 2003 tentang Pengelolaan Kepurbakalaan, Kesejarahan, Nilai Tradisional danMuseum).

Koleksi
Koleksi museum tentunya harus didokumentasikan secara verbal dan visual dengan ketentuan teknis permuseuman. Koleksi tidak boleh diperjualbelikan atau dipindahtangankan, tetapi boleh dipinjamkan untuk kepentingan pelayanan masyarakat. Pengumpulan koleksi dilakukan oleh pengelola museum dan bisa bekerjasama dengan semua pihak yang peduli, dengan cara menerima hibah, memperoleh dengan ganti rugi maupun titipan. Untuk menjaga kemanan koleksi diperlukan persyaratan agar semua koleksi memiliki bukti kepemilikan yang sah, telah mendapatkan persetujuan dari ahli warisnya serta diikat oleh perjanjian yang tertuang dalam berita acara.



Pemeliharaan, Pengamanan dan Pemanfaatan
Masalah krusial dalam pengelolaan koleksi museum adalah mengenai perawatan yang tidak baik, padahal perawatan sangat diperlukan untuk mencegah dan menanggulangi kerusakan koleksi yang disebabkan factor alam dan atau manusia. Seharusnya perawatan koleksi dilakukan di dalam ruang perawatan dengan cara dan teknik yang sesuai dengan kaidah permuseuman.
Tentu saja perawatan saja tidak cukup. Di samping perawatan Koleksi museum perlu pengamanan untuk menjaga keaslian, keutuhan dan kelengkapannya. Untuk koleksi yang bernilai tinggi dan langka tentunya memerlukan jaminan asuransi. Untuk perawatan dan pengamanan tersebut diperlukan tangan-tangan profesional.
Koleksi museum sangat bermanfaat untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penghayatan, pariwisata atau kepentingan lainnya. Perlu diperhatikan bahwa pemanfaatan koleksi museum tidak sampai menimbulkan kerusakan maupun hilangnya koleksi. Oleh karena itu pengelola museum berwenang untuk menetapkan kebijakan pemanfaatan yang dapat menjaga keberlangsungan keberadaan koleksi museum. Dalam hal tertentu pengelola dapat memungut dana dari pengunjung meskipun pada hakekatnya museum bukanlah lembaga komersial yang mencari untung.Untuk kepentingan pendidikan sebaiknya tidak dipungut biaya sama sekali, karenanya diperlukan kemampuan fund raising dari pengelola museum.
Pengelola museum berhak untuk melakukan renovasi tata pameran tetap dengan memperbaiki sarana pameran, tata letak koleksi, penggantian dan atau penambahan koleksi dengan yang baru sekurang-kurangnya setahun sekali. Dengan demikian koleksi museum selalu relevan dengan perkembangan kebudayaan.

Informasi
Keberadaan suatu museum tentunya baru memiliki arti apabila diapresiasi oleh masyarakat di sekitarnya yang berujung pada penghargaan akan kebudayaan dan peradaban bangsa. Untuk itu pengelola museum wajib menginformasikan mengenai keberadaan museum dan koleksinya melalui pameran tetap dan atau temporer, pemutaran slide atau film, video, museum keliling, bimbingan dan penyuluhan, ceramah, seminar, buku atau bentuk lainnya yang menyajikan koleksi museum.

Jumat, 10 Juli 2009

Rampokan Jawa

Saat berjalan-jalan di antara stand pameran kriya dari Dekranasda Kota Bandung, mata tertarik pada sebuah kaos oblong buatan Mahanagari yang dihiasi drawing Savoy Homann Bandoeng Java. Uniknya kaos itu dihiasi latar belakang gambar komik. Gambar diambil dari "Rampokan Jawa" karya Peter van Dongen terbitan Amsterdam, 1966.
Rampokan menurut tradisi Jawa merujuk pada macan atau harimau--simbol kemarahan pada penguasa kolonial-- yang tertangkap dan akan dibunuh pada upacara akhir Ramadhan.
"Rampokan" dibuat melalui penelitian sumber-sumber sejarah dan studi gambar yang memakan waktu tiga tahun. Inilah yang menjadi dasar bagi Peter untuk membangun kembali dunia yang masih dihuni oleh nenek moyangnya. Termasuk sudut-sudut kota Bandung pada tahun 1946. Di antaranya Hotel Savoy Homann, sebuah hotel yang dirancang ulang oleh seorang arsitek terkenal, Aalbers, pada tahun 1936. Arsitektur Savoy sendiri sebenarnya didesain mirip dengan karya Aalbers sebelumnya yaitu Denis Bank di jalan Braga, sekarang menjadi Bangk Jabar Banten.
Ternyata komik bisa menjadi penghubung antara masa kini dan masa lalu yang efektif dan menjadi alat evaluasi seberapa jauh warga Bandung melestarikan nilai-nilai historis kotanya. Bandung adalah kota yang kaya akan warisan arsitetur dan komik dapat mendokumentasikan hal itu dan menyimpannya dalam warisan seni gambar dan sastra untuk memperkaya wawasan siapa pun yang mau membacanya.

Jumat, 03 Juli 2009

Pendidikan dan Kualitas Manusia

Kualitas manusia
berasal dari dua sumber, bawaan genetic dan kemampuan yang diperoleh. Pendidikan adalah sumber utama dari kemampuan yang diperoleh. Perbedaan antara suatu Negara dengan Negara lain dalam kemampuan yang diperoleh (acquired abilities) itulah yang merupakan modal manusia (human capital). Sejak tahun 1980-an konsep human capital menjadi substansi analisis ekonomi.
Idealnya
seseorang dapat berpikir seperti Soedjatmoko, mampu mengekspresikan harapan dan keindahan seperti Rendra, berbicara sederhana namun berbobot seperti Hatta, dan menjadi pribadi public yang kuat dan bertanggungjawab seperti Bung Karno.
Pembentukan human capital
oleh pendidikan menjadi agenda penelitian sejumlah ekonom. Dampak pendidikan terhadap aktivitas ekonomi adalah nyata. Sudah diketahui pula bahwa Investasi di bidang human capital telah meningkatkan pendapatan nasional.


Selasa, 30 Juni 2009

Kerajaan Makna versi Phenix

Phenix
(Realms of Meaning)
mengatakan pada kerajaan makna ada enam rumpun makna.
Rumpun pertama dinamakan simbolik yang terdiri dari bahasa sehari-hari, matematika dan bentuk-bentuk simbol non diskursif.
Rumpun kedua dinamakan empirik yang terdiri dari ilmu fisika, biologi, psikologi dan sosial.
Rumpun ketiga dinamakan estetik yang terdiri dari musik, seni visual, seni gerak dan sastra.
Rumpun keempat disebut sinoetik yang terdiri dari pengetahuan personal.
Rumpun kelima adalah etika yaitu pengetahuan moral.
Rumpun keenam dinamakan sinoptik terdiri dari sejarah, agama dan filsafat.
Tadinya saya pikir kalau komik itu masuk pada rumpun ketiga (estetika) karena merupakan seni visual, tapi komik itu bisa simbolik, empirik, esetetik, sinoetik, etik, dan sinoptik sekaligus.
Tidak heran kalau ada komik tentang Das Kapital, Teori Newton dan ajaran Machiaveli.
Nah kapan para komikus INDONESIA membuat komik tentang Pancasila ?
Kutunggu.

Minggu, 28 Juni 2009

Catatan Dari Seorang Teman

Catatan Dadang Kusnandar

Minggu` 28 Juni 2009 sesaat menunggu istri dan anak pulang dari pasar tradisional, saya mengirimkan pesan pendek (tapi cukup panjang) kepada Tomi Johan Agusta di Denpasar, Mas Adji Klewang di Malang, dr Ribka Tjiptaning di Jakarta, Mas Cahyo Suryanto di Surabaya, Mas Harjoko di Bandung, Mas Dahono di Jakarta. Saya mentransfer kegelisahan sekaligus impian yang cukup lama terpendam: Museum Komik.

Jika setiap selesai shalat Shubuh dan menyiapkan diri ke sekolah, anak saya menyalakan televisi 14 inchi terus memeloti film kartun luar, seketika terpikir betapa minimnya pengetahuan anak saya menyoal tokoh lokal. Meski anak saya yang baru saja naik kelas 8 di Cirebon itu tergolong rajin baca dan mengoleksi buku; tetap saja Naruto, dan sebagainya yang dikenal-- mungkin jadi idola. Saya agak yakin anak-anak lain pun melakukan hal yang sama, mungkin di seluruh Indonesia.

Isi sms saya : Yang terpikir sekarang adalah, ingin ada yang mau bareng-bareng wujudkan mimpiku mendirikan Museum Komik Indonesia di Bali. Bukan cuma teringat masa kecil, tapi agar anak-anak Indonesia idolakan tokoh lokal, bukan tokoh imajinatif Jepang dan sebagainya. Pesan panjang itu, tak berapa lama dirspon teman di Denpasar, "Wah masih mikir mas, karena terhalang modal. Ha ha ha". Teman di Bandung menjawab singkat, "Ayo kita buat." Dari Malang ada jawaban, "Saya juga sedang merancang ide serupa meskipun caranya berbeda. Pengen bikin Sanggar Komik terus anak-anak itu kuajak memerdekakan diridari style Jepang. Tapi masih belum terwujud". Dari Bandung sms pun berlanjut, "Bagusnya di Ubud atau di Negara, karena di sana Dikdasmennya bagus, bupatinya juga ok". Lantas saya balas sms ke Bandung, "Tolong mas yang koordinir karena saya tidak kenal bupati itu". Dia pun menyahut, "Insya Allah". Dari Denpasar ada pilihan alternatif, katanya, "Bagus di Ubud, kalau di Negara jauh".

Dokter Ning menjawab singkat, "Setuju, tapi kenapa harus di Bali". "Bali lebih pas karena volume kunjungan wisatawan yang tinggi. Menurut saya Jakarta kurang tepat", jawab saya.Mas Adji merespon lagi, "Benar-benar kabar bagus kang. Sampeyan sudah link up dengan Bli Dewa Demuhbening di MP?". Saya balas, "Belum. Baru mas Tomi. Apa id MP nya atau kabari saja sms-an kita siang ini". "Cari saja di daftar contact mas Tomi atau aku, id-nya demuhbening. Dia dan mas Tomi mengelola website Balicomic". Dari Bandung, Dian Hartati merespon, "Siapa tahu komik yang diterbitkan Mizan bisa masuk museum tersebut".
Mas Dahono dari Jakarta membalas, "Kenapa Bali? Bukannya Cirebon juga membutuhkan lokal hero?". "Bali sama saja kayak Jakarta. Kecuali pertimbangannya memang cuma dagang".

Pesan pendek yang lebih pas disebut pesan panjang karena di hp lama batas maksimalnya 1000 karakter, siang itu menyenangkan sekaligus menantang. Bukan belaga melawan opini yang tercipta dari film-film kartun Jepang di benak anak, apalagi berdalih neolib; melainkan bagi kami sangat penting lantaran anak-anak Indonesia lebih hafal Naruto daripada Jaka Sembung. Lebih paham dan dekat Shunchi Kudo daripada Si Pitung atau Bang Jampang. Lebih akrab dengan Maria Edogawa, Hatake Kakashi dan masih banyak lainnya ketimbang I Gusti Ngurah Rai.

(Catatan pendek ini semoga menjadi sebuah tema diskusi dengan teman-teman yang namanya saya rujuk di atas, yang tergabung di situs ini. Terima kasih)