Selasa, 30 Juni 2009

Kerajaan Makna versi Phenix

Phenix
(Realms of Meaning)
mengatakan pada kerajaan makna ada enam rumpun makna.
Rumpun pertama dinamakan simbolik yang terdiri dari bahasa sehari-hari, matematika dan bentuk-bentuk simbol non diskursif.
Rumpun kedua dinamakan empirik yang terdiri dari ilmu fisika, biologi, psikologi dan sosial.
Rumpun ketiga dinamakan estetik yang terdiri dari musik, seni visual, seni gerak dan sastra.
Rumpun keempat disebut sinoetik yang terdiri dari pengetahuan personal.
Rumpun kelima adalah etika yaitu pengetahuan moral.
Rumpun keenam dinamakan sinoptik terdiri dari sejarah, agama dan filsafat.
Tadinya saya pikir kalau komik itu masuk pada rumpun ketiga (estetika) karena merupakan seni visual, tapi komik itu bisa simbolik, empirik, esetetik, sinoetik, etik, dan sinoptik sekaligus.
Tidak heran kalau ada komik tentang Das Kapital, Teori Newton dan ajaran Machiaveli.
Nah kapan para komikus INDONESIA membuat komik tentang Pancasila ?
Kutunggu.

Minggu, 28 Juni 2009

Catatan Dari Seorang Teman

Catatan Dadang Kusnandar

Minggu` 28 Juni 2009 sesaat menunggu istri dan anak pulang dari pasar tradisional, saya mengirimkan pesan pendek (tapi cukup panjang) kepada Tomi Johan Agusta di Denpasar, Mas Adji Klewang di Malang, dr Ribka Tjiptaning di Jakarta, Mas Cahyo Suryanto di Surabaya, Mas Harjoko di Bandung, Mas Dahono di Jakarta. Saya mentransfer kegelisahan sekaligus impian yang cukup lama terpendam: Museum Komik.

Jika setiap selesai shalat Shubuh dan menyiapkan diri ke sekolah, anak saya menyalakan televisi 14 inchi terus memeloti film kartun luar, seketika terpikir betapa minimnya pengetahuan anak saya menyoal tokoh lokal. Meski anak saya yang baru saja naik kelas 8 di Cirebon itu tergolong rajin baca dan mengoleksi buku; tetap saja Naruto, dan sebagainya yang dikenal-- mungkin jadi idola. Saya agak yakin anak-anak lain pun melakukan hal yang sama, mungkin di seluruh Indonesia.

Isi sms saya : Yang terpikir sekarang adalah, ingin ada yang mau bareng-bareng wujudkan mimpiku mendirikan Museum Komik Indonesia di Bali. Bukan cuma teringat masa kecil, tapi agar anak-anak Indonesia idolakan tokoh lokal, bukan tokoh imajinatif Jepang dan sebagainya. Pesan panjang itu, tak berapa lama dirspon teman di Denpasar, "Wah masih mikir mas, karena terhalang modal. Ha ha ha". Teman di Bandung menjawab singkat, "Ayo kita buat." Dari Malang ada jawaban, "Saya juga sedang merancang ide serupa meskipun caranya berbeda. Pengen bikin Sanggar Komik terus anak-anak itu kuajak memerdekakan diridari style Jepang. Tapi masih belum terwujud". Dari Bandung sms pun berlanjut, "Bagusnya di Ubud atau di Negara, karena di sana Dikdasmennya bagus, bupatinya juga ok". Lantas saya balas sms ke Bandung, "Tolong mas yang koordinir karena saya tidak kenal bupati itu". Dia pun menyahut, "Insya Allah". Dari Denpasar ada pilihan alternatif, katanya, "Bagus di Ubud, kalau di Negara jauh".

Dokter Ning menjawab singkat, "Setuju, tapi kenapa harus di Bali". "Bali lebih pas karena volume kunjungan wisatawan yang tinggi. Menurut saya Jakarta kurang tepat", jawab saya.Mas Adji merespon lagi, "Benar-benar kabar bagus kang. Sampeyan sudah link up dengan Bli Dewa Demuhbening di MP?". Saya balas, "Belum. Baru mas Tomi. Apa id MP nya atau kabari saja sms-an kita siang ini". "Cari saja di daftar contact mas Tomi atau aku, id-nya demuhbening. Dia dan mas Tomi mengelola website Balicomic". Dari Bandung, Dian Hartati merespon, "Siapa tahu komik yang diterbitkan Mizan bisa masuk museum tersebut".
Mas Dahono dari Jakarta membalas, "Kenapa Bali? Bukannya Cirebon juga membutuhkan lokal hero?". "Bali sama saja kayak Jakarta. Kecuali pertimbangannya memang cuma dagang".

Pesan pendek yang lebih pas disebut pesan panjang karena di hp lama batas maksimalnya 1000 karakter, siang itu menyenangkan sekaligus menantang. Bukan belaga melawan opini yang tercipta dari film-film kartun Jepang di benak anak, apalagi berdalih neolib; melainkan bagi kami sangat penting lantaran anak-anak Indonesia lebih hafal Naruto daripada Jaka Sembung. Lebih paham dan dekat Shunchi Kudo daripada Si Pitung atau Bang Jampang. Lebih akrab dengan Maria Edogawa, Hatake Kakashi dan masih banyak lainnya ketimbang I Gusti Ngurah Rai.

(Catatan pendek ini semoga menjadi sebuah tema diskusi dengan teman-teman yang namanya saya rujuk di atas, yang tergabung di situs ini. Terima kasih)